ADA PELAJARAN BERHARGA DI SANA




 
"Kenangan itu mendarah daging pada masa pertumbuhanku ."

  Tidak hanya belajar menulis karangan atau menggambar dua gunung, matahari, dan persawahan.
Di SDN WATUAGUNG 02 yang terletak di dasa paling ujung kota Semarang ini, aku juga belajar arti kehidupan.

Aku bukan murid yang pintar. Aku tidak dapat mencerna pelajaran dengan begitu baik, bahkan tidak jarang nilai merah mewarnai rapotku diakhir semester. Tapi aku yakin aku tidak bodoh. Setiap orang ada keistimewaan nya tersendiri, bukan?

Teman-teman selalu mengucilkanku, membully, dan mereka terkesan sangat membenciku. Namun aku tidak yakin atas dasar apa mereka berbuat demikian. Hal itu membuatku merasa tidak mendapatkan aliran energi positif dari lingkup sekeliling.

Suatu hari ketika pelajaran agama Islam berlangsung di kelas, guruku menceritakan kisah tentang Nabi Muhammad. Pak Nawir, begitu kami memanggil guru agama yang sangat straight forward itu. Beliau selalu melontarkan pertanyaan spontan kepada murid. Dan aku menjadi salah satu murid yang ditunjuk nya untuk menjawab, ketika aku sedang membungkuk mengambil pensilku yang terjatuh. Aku sangat grogi sejurus saja mendengar namaku terpanggil oleh nya.

"Kisah Nabi siapa yang baru saja saya ceritakan?" Tanya beliau kepadaku.

"Nabi Muhammad." Jawabku singkat.

"Nabi Muhammad, apa?" Tanyanya lagi.

Aku diam membisu, bingung mau menjawab apa. Bukankah beliau tadi bercerita tentang kisah Nabi Muhammad? Aku semakin ciut ketika kuamati pandangannya yang mulai terlihat seram. Ah, sungguh aku membenci pandangan sebegitu. Sinar mata garang nya membuatku ketakutan. 

"Muhammad Sallallahu alaihi wasallam." Ucapnya. "Ulangi!" Perintahnya kemudian.

"Muhammad Sall...a...ll...ahu..." Lidahku terasa kelu, membuatku terbata-bata mengulangi kalimat itu. Dicampur rasa takut dan grogi luar biasa. Aku seperti orang bodoh saat itu. "Ayolah, jangan permalukan dirimu di kelas. Teman-teman akan semakin senang dengan pertunjukan ini. Katakanlah...gerakkan lidahmu mengikuti kata hatimu!" Kumarahi diri yang tak dapat diajak kompromi. Ketika aku berusaha membuka mulutku untuk mengulangi kalimat itu, Pak Nawir marah di saat yang bersamaan. Beliau pikir aku tidak memperhatikan nya.

Aku tau setiap guru mempunyai caranya tersendiri untuk menyampaikan ilmu kepada murid-murid nya. Aku tidak membenci atau marah dengan sikap beliau yang cukup membuatku malu kala itu. Terbiasa dengan bully-an teman-teman membuatku menjadi diri yang cenderung diam. Dan menganggap hal semacam itu sudah sangat biasa.

Kini semua itu telah menjadi kenangan yang tak mungkin kulupa. Membuatku tersenyum jika mengingatnya, betapa mereka memberi pelajaran berharga yang tak dapat kutemukan di tempat lain. Bahkan kedengkian-kedengkian mereka yang membuat kekuatanku membatu bagai karang yang tak gentar dengan hempasan ombak. Selalu di kucilkan juga tidak lantas membuatku merasa sendiri, melainkan kesadaranku bahwa Allah lebih dekat dengan urat leherku. IA tau seikhlas apa aku selalu berserah kepada-Nya. Sungguh Allah tidak pernah meninggalkanku seorang diri.

Comments

Popular Posts