Skip to main content

Featured

EPISODE 5 - SELF CARE; MEMBACA

Assalamu'alaikum, semoga kesehatan dan keimanan kalian dalam keadaan terbaik. Aku excited banget dengan tema self care kali ini. Kalau dengar kata membaca, apa yang ada di pikiran kalian? Sebagian orang pasti ada yang langsung ngantuk hahaha...Tapi kupikir dijaman sekarang ini banyak yang sudah mulai sadar bahwa membaca itu sangat penting, ya walaupun sebagian orang lebih suka membaca status teman di media sosial. Memang tidak salah, karena kita sedang berada di era teknologi. Nah tinggal bagaimana kita mem-filter apa yang kita baca di media sosial. Berdasarkan penelitian di media sosial yang ku punya, banyak  sekali ternyata teman-teman yang lebih tertarik membaca status yang kontroversial, atau pisuhan. Mereka juga lebih tertarik melihat postingan foto daripada artikel. Jadi banyak orang yang menjadikan foto sebagai trik menarik minat orang untuk membaca. Itupun jika fotonya bukan foto selfie sedikit sekali sepertinya yang tertarik, itulah kenapa banyak orang yang ingin menyampa…

TAKE A BREAK, PACK A BAG, AND GO SOMEWHERE!

 Setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan dan aktifitas sosial tanpa jeda, saatnya kembali berexplorasi dan menyatu dengan alam. Untuk melakukan hal yang satu ini baiknya kita pergi dengan teman yang punya jiwa pengelana, atau bisa sendiri saja jika memang lebih nyaman. Sebagian orang mungkin berpikir bahwa Singapura adalah negara kecil yang hanya dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit. Negara yang terlihat setitik merah di dalam peta ini ternyata memiliki 63 pulau. Pulau Sentosa adalah Pulau terbesar dari 63 Pulau yang ada. Di ikuti urutan terbesar selanjutnya adalah Pulau Ubin, St.John's Island, Dan Sisters Island.

  Explorasi kali ini aku memilih Pulau Ubin sebagi destinasi, ini adalah kali keduaku ke Pulau Ubin. Pulau ini terletak di Timur Utara dari Singapura, sebelah Barat Pulau Tekong. Mempunyai luas sekitar 10.19Km². Inilah sisi lain Singapura, orang lokal menyebutnya "Singapore's last Villave" atau kampung terakhir yang tersisa di Singapura. Untuk bisa sampai di pulau ini kita bisa menaiki bumboat dari Changi Point.
"The journey begin from the bumboat."

"With bestie, biar ada yang disuruh motoin hehe.."
Begitu sampai di gerbang utama Pulau tersebut, kita akan di sambut dengan para perental sepeda. Banyak aktifitas yang bisa dilakukan para pengunjung, yang paling banyak diminati adalah bersepeda dan memancing. Kita bisa menyewa sepeda dengan berbagai macam harga, tergantung dengan kualitas sepeda itu sendiri.

"Rental sepeda di sepanjang jalan utama"
Jika menyusuri sepanjang jalan Pulau Ubin, akan terlihat bagaimana kehidupan masyarakat lokal. Tanpa akses kemoderan, air sumur, pertanian tradisional, dan memancing diandalkan penduduk setempat untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka juga terbiasa dengan berisiknya bunyi diesel generator lsitrik.


"Salah satu model rumah penduduk kampong"
  Aku memilih mengexplore Pulau Ubin dengan menyewa sepeda. Bersepeda di sini tidak seperti bersepeda di park atau sport area. Hanya sekedar saran, jika tidak mempunyai nyali yang tinggi mending jalan santai saja. Atau bisa juga menyewa van rombongan untuk berkeliling. Tapi rasanya tidak akan sepuas ketika kalian bisa berexplorasi dengan bebas. Bersepeda dengan memilih jalan aman juga bisa mejadi pilihan, tapi jangan berharap akan melihat secara menyeluruh daerah di Pulau tersebut. Untuk bisa melihat secara detail, kita harus punya nyali tinggi untuk memalui medan yang extream. Jalan bebatuan dan tanah yang licin adalah rupa kebanyakan jalan di sana. Bonusnya adalah udara yang sangat segar. Alam yang sangat menakjubkan.

"Berpose di tengah hutan.
Tidak boleh mengambil selain foto, kan?"
Jatuh terpental karena turunan yang tajam sudah biasa bagiku :D
Temanku beberapa kali mengingatkanku untuk menahan rem sedikit jika melalui turunan, tapi aku tidak mendengarkannya. 
Turunan yang penuh dengan bebatuan itu kulalui dengan lost rem, dan kemudian gubrakkkkkk!!!

"Setelah jatuh celana robek, untung Dadhi membawa
alat jahit"
Bagi orang gila sepertiku semakin diingatkan pasti malah semakin penasaran. Kaki bengkak dan bahu keseleo, ummm rasanya nyut-nyut manjah :D My besties kawatir bukan kepalang menyaksikan badanku terpental, tapi aku justru tertawa melihat gelagat mereka. Mereka selalu melayaniku seperti layaknya adik bungsu, mungkin karena secara usia aku memang paling muda. Di saat yang bersamaan aku tertawa geli melihat kotak kecil berisi peralatan lengkap untuk menjahit. Temanku yang satu itu memang paling rajin membawa segala peralatan jika berpergian. Tidak jarang aku selalu meledeknya, namun aku jugalah yang paling sering membutuhkan apa yang dia bawa.

Aku tidak pernah mem-planning sebuah trip dengan sangat terperinci, semuanya hanya secara spontan. Bahkan peralatan apa saja yang mau dibawapun disiapkan dengan mendadak. Jaman sekarang memakai kaos couple dengan tulisan "My Trip My Adventure" menjadi trend yang sangat di gemari anak-anak muda, tapi paling jauh nge-tripnya cuma ke alun-alun *peace :D 
Tapi tidak denganku, baju yang kupakai itupun maen tarik dari almari. Asal dapet, pakai, langsung cuzzzz... Trip terealisasikan!


"Membuka kotak jarum keramat :D"

 Melalukan hal yang lasak memang sudah menjadi kegemaranku sejak kecil, jika lama tidak berkesempatan melakukan hal-hal semacam ini rasanya rindu. Maka sesekali perlu menyempatkan diri melakukannya. Aku sangat menyukai alam, dan sejauh ini Pulau Ubin menjadi salah satu tempat favorit di Singapura. Selain Pulau Ubin, Lazarus juga favorit. InsyaAllah lain kali aku akan share tentang Lazarus.

Bahasa Melayu sebenarnya menjadi bahasa Nasional Singapura, namun hal itu tidak lama berlaku untuk hal kenegaraan atau hal umum lain nya. Bahasa Inggris lah yang kemudian menjadi bahasa yang di gunakan. Dalam sejarah Singapura, bahasa melayu masih tercatat sebagai bahasa Nasional namun hanya sebatas formalitas saja. Bahkan di Singapura pun mempunyai Inggris nya sendiri yang di sebut Singlish. Belajar bahasa asing memang asik, Singlish tidak sekedar bahasa biasa. Singlish is fun!

Singlish adalah Ingris bercampur dengan bahasa Melayu dan Chinese. Semakin hari Singlish-pun semakin banyak kosa kata baru. Ketika mengexplore kemarin aku menemukan spot yang menurutku kece banget, yang setiap kali melaluinya akan membuatku merasa lucu sekaligus salut dengan masyarakat Singapura yang bangga dengan bahasanya.
"Oh...yeh Oh...yeh
y u so like that! Buy a drink la...thanks" :D
Tulisan tersebut terpampang nyata di depan stall minuman. I think it was cool! :)

Nanum tidak semua penduduk Pulau Ubin menggunakan Singlish untuk bahasa keseharian mereka. Ada sebagian yang logatnya berbahasa Indonesia, ini dikarenakan Pulau Ubin sangat dekat dengan Indonesia dan Malaysia.

  Di Pulau ini ada lima pertambangan. Ada kantor polisi dan sekolah untuk kepolisian. Tidak perlu takut nyasar, walaupun dusun banget di Pulau ini tetap tersedia petunjuk jalan dan peta lengkap dengan semua keterangan. Dari sanalah aku jadi tau, sedikit banyaknya menjadi bahan tulisan ini. Tapi aku lebih suka turun langsung menemui orang-orang di sana untuk berkomunikasi. Sebagai pembelajar, jelas aku ingin memastikan selalu ada sesuatu yang kupelajari dari tempat yang kukunjungi. Bisa juga kemah menginap, tapi harus lapor. Supaya jika terjadi apa-apa bisa dilacak. Karena apapun bisa terjadi di Pulau ini. 


"Menikamti pemandangan pertambangan batu granite"
"Berhenti sejenak, selfie dulu"
Tips kece sebelum berangkat, makan dulu tapi jangan kekeyangan. Sekedarnya saja untuk mengisi energi. Karena jelas kita butuh energi extra. Tidak perlu bawa air minum dari rumah karena berat, di Pulau Ubin kalian bisa menemui beberapa stall minuman. Bisa melepas lelah sejenak di sana sambil minum kelapa muda. Biasanya di stall-stall minuman ada juga yang menjual buah-buahan hasil dari perkebunan mereka, seperti durian dan rambutan.

Sebenarnya kalian bebas memilih, sesuai dengan kenyamanan kalian saat trip. Atau bisa juga beristirahat di pantai, bawa sedikit makanan ringan dan minuman. Surga dunia mana yang kau dustakan, rek? :D
"Istirahat di pantai sambil ngemil."

"Menikmati pemandanganlaut dengan khusuk."
Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat setelah tiga jam yang cukup membuat kami ngos-ngosan. Kakiku yang bengkak karena jatuh terpental juga membuatku lelah lebih awal. Kalau tidak, mungkin bisa lanjut berekplorasi 5 sampai 6 jam.

"Boleh lelah namun tidak boleh menyerah, terkadang
perlu dituntun juga."
Jalanan yang terlalu menanjak membuat kami terkadang harus menyerah dengan ambisi penakluan haha...
Hampir sepertiga dari Pulau itu yang berhasil kita jelajahi, lumayan kan? semoga lain kali ada kesempatan untuk berkunjung dan berekplorasi lagi di Pulau yang kece ini. 

  Kami memutuskan pulang sekitar jam 5 sore, cuacanya sudah tidak sebahang siang. Kami kembali ke Changi Point menaiki bumboat dengan tarif $3 perorang. Ongkos pergi-pulang $6 perorang. Tidak usah di rupiahkanlah, ntar malah jadi baper :D


"Wefie dulu with my buddies"
Pulang mbolang dengan kaki pincang dan bahu keseleo, tapi sakitnya memang tidak seberapa dibandingkan dengan rasanya di PHP-in *eh :D
Puas dan bahagia itu yang penting. Menyatu dengan alam seolah menjadi special terapi tersendiri bagiku. Seperti mendapat kekuatan dari semesta yang luar biasa tersalur ketubuhku.
Bisa dijadikan bekal energi untuk bekerja dalam beberapa minggu ke depan. Karena banyaknya komitmen dalam bekerja dan aktifitas sosial diluar sana. Sedikit sekali waktu yang tersisa untuk menikmati hal yang memang kugemari seperti ini.

Thanks Pulau Ubin, I will be back soon! 

Comments

Popular Posts