SOAL KOPI JANGAN BERCANDA

"Selalu ada cerita di dalam secangkir kopi"


"Jadi fiks ya mbak, kita ketemuan di Cafe X ?" Tanya nya lewat WA.

"Sip!" Jawabku singkat.

Belum terlalu lama mengenal sosok yang mempunyai kebiasaan grasak grusuk itu, dia adalah member baru di group. Kerja bareng sama orang yang tidak begitu kenal secara personal memang sebuah tantangan tersendiri. Namun demi professionalisme pertemuan untuk membahas kegiatan pun diset.
Jam 9 pagi aku sampai di Cafe X seperti yang telah dijanjikan. Aku mencari tempat duduk di pojokan, sembari menunggu doi yang katanya masih OTW akupun memesan secangkir cappuccino. Beberapa menit kemudian HP-ku berdering, doi mengabari sudah di depan Cafe. 

"Masuk saja mbak, aku duduk di pojokan sebelan kanan!"

"Sorry ya telat, udah lama?" Tanya nya dengan napas yang tidak teratur alias ngos-ngosan. Doi juga kelihatan nya sangat kepanasan, sesekali tangan nya mengipas-ngipas wajah nya dengan dandanan cetar membahana badai itu. Aku tersenyum melihat tingkahnya.

"Assalamu'alaikum...?" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan nya.

"Wa'alaikumsalam, maaf...maaf... jadi lupa ngasih salam." Sambil cengengesan dia menyambut jabatan tanganku.

Doi mengeluarkan berkas keperluan untuk meeting, aku juga mengeluarkan notebook dan pen. Kuperhatikan gerak-gerik nya yang terkadang mencuit hati membuatku jadi tersenyum kecil. 

"Aku jarang lho keluar sepagi  ini, kalo nggak karena kepentingan group aku nggak bela-belain kayak gini deh." Ucapnya tiba-tiba.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Ku seruput cappuccino dengan nikmat sekali. Doi melirik ke arahku lalu tersenyum.

"Mbak nggak mau pesen minum dulu aja sebelum mulai meeting nya?" aku menawarinya. "Supaya lebih santai." Sambungku.

"Ide bagus, bentar ya..." 

Doi berdiri menolak kursi nya kebelakang sedikit tapi menimbulkan suara yang berisik sekali. Hingga membuat orang-orang di sekeliling kami menoleh. Aku langsung menyuruhnya kembali duduk, dan menanyakan minuman apa yang doi inginkan. Melihat kegrasak-grusukan nya aku kawatir akan ada cangkir pecah atau minuman tumbah sebentar lagi. 
Doi menanyakan menu apa saja yang tersedia di Cafe X ini. Setelah kusebutkan beberapa jenis kopi doi menyetopku dengan pilihan nya, yaitu esspreso. Aku sempat ragu dengan pilihan nya.

"Serius espresso, mbak?" Tanyaku memastikan.

"Ya masa pagi-pagi bercanda." 

Jawaban nya membuatku tersenyum geli, tanpa banyak tanya lagi aku berlalu memesan espresso untuk nya. Sejak pertama kali melihat nya gabung di group doi memang agak aneh. Entahlah bagaimana harus kujabarkan keanehan nya itu. Hari ini dapat tugas bareng dia pula. Ah ini memang candaan pagi hari, bisik hatiku.

Kuletakan espresso panas dengan aroma yang sangat kuat itu di meja. "Silahkan, mbak..."

Sambil meniup-niup espresso panas nya doi menceritakan kebiasaan nya menikmati secangkir kopi setiap pagi. Dari ceritanya seperti nya doi memang penikmat kopi banget. Aku hanya merespon ceritanya dengan sesekali tersenyum atau mengangguk saja. Dulu kopi juga merupakan nyawaku, sehari bisa 3-4 cangkir kuhabiskan. Sekarang sudah tidak lagi semenjak mendapat teguran dari sang dokter. Awalnya memang berat namun perlahan aku bisa dengan secangkir saja dalam sehari.

Cappuccino ku tinggal separo ketika doi baru mau memulai seruputan pertamanya. Diam-diam aku memerhatikan nya, sampai akhirnya kaget karena semburan kopi dari mulutnya membasahi kertas-kertas di meja.

"Kenapa mbak, masih panas ya?" Tanyaku panik. Kuberikan beberapa lembar tisu untuk nya.

"Sialan! Ini kopi apaan sih?!" Ucapnya dengan nada kesal.

"Tadi mbak mau espresso, kan?"

"Tapi kok rasa nya..." doi mengelap mulut nya.

"Pait?"

"Banget! Ngalahin jamu!"

Mendengar jawaban nya rasanya antara mau ketawa dan pingsan di tempat. Aku membantu nya mengelap meja dan menyelamatkan kertas-kertas supaya tidak sobek. Wajah yang cetar membahana itu berubah jadi manyun karena baju nya pun turut basah sedikit. Aku menawari nya pergi ke washroom tapi doi menolak. Tisu basah menjadi pilihan nya untuk membersihkan baju nya.

"What you expect? Dari dulu espresso ya pait. Aku pikir mbak tau tentang kopi." Ucapku kemudian.









Comments

Popular Posts