ADA YANG BEDA DI PULAU UBIN

Tahun 2016 yang lalu aku pernah menulis tentang pulau ubin di blog ini. Ketika kubaca ulang tulisan tersebut, ada beberapa bagian yang menurutku harus direvisi. Seperti misalnya aku menyebutkan tentang jalanan yang didominasi dengan tanah becek dan bebatuan. Nah, kini Pulau Ubin sudah banyak berubah guys, pasca hari libur umum natal kemarin aku dan beberapa temanku mengunjungi Pulau Ubin. Kami gowes bareng di sana.
Seperti biasa untuk menuju ke Pulau Ubin kita harus menaiki bumboat, sekarang tarif nya sudah naik menjadi $4, tahun 2016 yang lalu masih $3, naik ¢50 pada tahun 2017-2018 seingatku. Menurutku $4 itu terlalu mahal karena untuk sampai ke Pulau Ubin dari Changi Point hanya sekitar 10-15 menit saja. Tapi ya mau bagaimana lagi sedangkan jaman semakin maju dan berkembang. Dulu harga sewa sepeda $7 - $8 untuk seharian, kini menjadi $10 - $12 tergantung kualitas sepedanya. Aku dan teman-temanku kemarin menyewa yang $10 saja menurutku kualitasnya sudah solid. Jalanan di Pulau Ubin sudah banyak berubah dan ada beberapa area yang masih dalam perbaikan. Untuk yang ingin gowes santai bisa memilih jalan aspalnya saja. Tapi untuk yang mau benar-benar berpetualang bisa ambil jalur yang ekstrim, jalanan yang penuh tanah becek dan bebatuan, juga banyaknya tanjakan dan turunan. Kemarin kami melewati keduanya. Seperti biasa aku sempat jatuh nyungsep hahaha...

Hal lain yang ingin aku revisi dari tulisan yang lalu adalah yang pertama tentang air minum. Kalau dulu aku menyarankan untuk beli di sana saja, kini aku menyarankan untuk bawa botol air dari rumah saja. Karena dengan begitu kita bisa berpartisipasi untuk mengurangi sampah plastik. Barapa banyak orang yang mengaku mencitai alam tapi tidak peka akan kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh mereka yang ngakunya cinta. Kini sudah saatnya kita sadar bahwa cinta itu tidak cukup hanya di mulut saja, kita harus buktikan. Mari menjadi bagian dari solusi mencegah kerusakan bumi. Semoga partisipasi kita menjadi bentuk rasa syukur yang paling jujur.


Lahkah kecil menjaga bumi
Selain membawa air minum dari rumah kalian juga bisa membawa makanan atau cemilan. Kemarin salah satu temanku membawakan ketan goreng dan jeruk, aku lupa tidak ambil foto hehe... 
Selain gowes kami juga berjalan menyusuri boardwalk yang panjangnya 1,1kilometer, setelah setengah perjalanan kami juga disuguhi pemandangan bakau dengan bau amis dan lumpur yang khas. Ada menara setinggi 20 meter yang memberi kesempatan untuk pengunjung melihat beberapa sisi keindahan Pulau Ubin, populasi burung yang ada di sana, dan tidak lupa monyet nya.

Pemandangan dari boardwalk

Satu sisi pemandangan dari menara 20 meter

Di Pulau Ubin memang banyak sekali monyet dan babi liar. Pengunjung juga sebenarnya dilarang memberi makan mereka, tapi monyet-monyet disana agak usil. Setiap kali melihat orang jalan nenteng makanan mereka akan nyomot sembarangan dan lari setelahnya.

Monyet juga lucu
Perkampungan di sana juga sudah mulai berkurang. Kios minuman banyak yang diperbaharui dan ada beberapa yang sudah ditutup. Beberapa tempat foto andalan juga dipagerin dalam perbaikan. Meski banyak sekali perubahan yang teradi di Pulau Ubin, namun masih ada tempat-tempat yang tetap dipelihara keasliannya. Dan yang jelas ada satu yang tidak pernah berubah yaitu rasaku terhadap tempat favoritku yang satu ini. Aku masih tetap senang mengujungi Pulau Ubin. Sensasi pertualangannya juga masih tetap terasa, apalagi pegelnya hahaha...

Kali ini milih sepeda yang ada keranjangnya :D
Jika dihitung aku sudah 6-7 kali mengunjungai Pulau Ubin, jadi sangat tau perubahannya secara signifikan. Aku juga sealu datang dengan teman yang berbeda tapi Pulau Ubin selalu memberi rasa senang yang sama. Jika ada kesempatan tahun depan insyaAllah aku akan ke sana lagi. Semoga perbaikan-perbaikan yang dilakukan di sana segera selesai biar nanti ketika berkunjung lagi aku punya bahan tulisan untuk dibagikan ke kalian. Nah, kali ini segitu dulu ya ceritanya. Terima kasih sudah mau berkunjung dan selamat karena tulisanku memilihmu untuk menjadi pembacanya :)






Comments

Eli Noer said…
Wah, saya ke pulau ubin tahun 2014 Kalo tidak Salah hehe.
Windumadness said…
Sepertinya seru kalau tahun depan MWS ngadain gowes bareng ke sana, El :)
Jadi pengen ke sana. Tapi baru berani di mimpi hahaha
Windumadness said…
Ayo mba, nanti ndu yang jadi pemandu wisatanya :D

Popular Posts