Skip to main content

Featured

EPISODE 5 - SELF CARE; MEMBACA

Assalamu'alaikum, semoga kesehatan dan keimanan kalian dalam keadaan terbaik. Aku excited banget dengan tema self care kali ini. Kalau dengar kata membaca, apa yang ada di pikiran kalian? Sebagian orang pasti ada yang langsung ngantuk hahaha...Tapi kupikir dijaman sekarang ini banyak yang sudah mulai sadar bahwa membaca itu sangat penting, ya walaupun sebagian orang lebih suka membaca status teman di media sosial. Memang tidak salah, karena kita sedang berada di era teknologi. Nah tinggal bagaimana kita mem-filter apa yang kita baca di media sosial. Berdasarkan penelitian di media sosial yang ku punya, banyak  sekali ternyata teman-teman yang lebih tertarik membaca status yang kontroversial, atau pisuhan. Mereka juga lebih tertarik melihat postingan foto daripada artikel. Jadi banyak orang yang menjadikan foto sebagai trik menarik minat orang untuk membaca. Itupun jika fotonya bukan foto selfie sedikit sekali sepertinya yang tertarik, itulah kenapa banyak orang yang ingin menyampa…

WORKSHOP BERSAMA NOELLE Q. DE JESUS

Tahun baru biasanya dijadikan sebagai momentum untuk menyusun resolusi dan juga mengevaluasi diri. Begipun aku, walaupun aku tidak merayakan tahun baru sebagimana yang kebanyakan orang lakukan. Tapi aku tidak mau ketinggalan untuk menyusun resolusi 2020 ini. Bagiku resolusi itu semacam struktur yang bisa digunakan untuk mencapai sebuah keinginan. Dari sekian banyak resolusiku tahun ini salah satunya adalah untuk lebih rajin menulis dan meningkatkan kemampuan serta kualitas dalam menulis. Beberapa waktu belakangan ini aku selalu menunggu mood menulis itu datang dulu baru menulis, tapi kali ini aku bertekad untuk tidak menunggu melainkan menciptakan mood menulis itu.

Nah, bagaimana caranya supaya kita bisa meningkatkan kemampuan serta kualitas dalam menulis?
Untuk menjadi penulis yang baik tentu kita harus rajin membaca, karena tidak ada penulis yang tidak membaca. Selain itu kita juga harus memperbanyak referensi bacaan, dan sebagai langkah yang lebih advance kita bisa menghadiri lokakarya kepenulisan. Di lokakarya kita bisa belajar dari yang lebih senior. 
Kebetulan aku baru saja menghadiri lokakarya kepenulisan di The Moon , sebuah toko buku dan kafe yang berdiri sejak tahun 2018, terletak di 37 Mosque St, Singapore 059515. Kafe yang satu ini memang sengaja dirancang untuk tempat nongkrongnya para pecinta buku dan sastra. Sangat nyaman dan pastinya bikin betah.

kredit foto @bakening.co
kredit foto @bakening.co

Lokakarya tersebut dibimbing oleh seorang penulis Filipina-Amerika yang tinggal di Singapore, Noelle Q. de Jesus. Dengan tema Creative Writing as Self-Care Therapy. Jika kalian tidak familiar dengan beliau, silahkan di goolge saja. Cursed & Other Stories dan Blood adalah dua buku beliau yang di-share dalam lokakarya selama satu setengah jam tersebut. Selain menulis cerita fiksi, menurut Noelle menulis adalah sebuah cara untuk menyeimbangkan kesehatan fisik maupun mental. Seperti misalnya menulis buku harian. Menulis juga tidak melulu harus berpikir apakah tulisan tersebut harus dipublikasikan. Seketika itu aku langsung bisa relate dengan beliau karena aku juga memulai kesukaan menulis dari kebiasaanku menulis buku harian. Walaupun sekarang aku juga sudah menulis puisi, cerpen, dan yang lainnya. Aku tidak pernah membebani diriku dengan keharusan mempublikasikan tulisan-tulisanku tersebut. Karena yang paling penting dengan tulisan tersebuat aku merasa lega telah menumpahkan kata-kata yang berjubel dihati dan pikiranku. Anyway... 


Ada beberapa kebiasaan Noelle dalam menulis yang beliau bagikan dan sempat kucatat:

1. Harus punya note book 
Kedengarannya memang klasik, tapi bagi Noelle buku nota kecil sangat penting untuk mencatat apapun yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya saat itu juga. Meski teknologi sekarang sudah sangat canggih, beliau masih tetap memilih untuk membawa nota kecil kemanapun beliau pergi. Karena menurutnya tangan mempunyai muscle memory.

2. Kapsul waktu
Menulis setiap kejadian yang menurutnya bisa dijadikan bahan untuk melengkapi tulusan-tulisan fiksinya. Jadi ketika penulis mengalami writers block kapsul tersebut bisa dibuka untuk kemudian dijadikan referensi.

3. Puisi
Menangkap kejadian dan menuliskannya dalam bentuk puisi. Hal ini juga berguna sebagaimana kapsul waktu.

4. Menukar karakter
Hal ini Noelle lakukan untul self-care terapi. Seperti misalnya beliau sedang mengalami hal yang kurang baik, maka beliau akan menuliskan kejadian yang sebaliknya dalam bentuk fiksi. Selain kemudian tulisan tersebut menjadi sebuah karya, beliau pun akan merasa membaik dari kejadian yang kurang baik tersebut. Ini bagiku seperti menerapkan dalam diri untuk selalu bersyukur.

5. Menulis surat
Bukan untuk dikirim kesiapapun tentunya, hanya ditulis sebagai luahan hati. Misalnya ketika sedang merasa sebal dengan seseorang, daripada ketika diungkapkan dihadapan orang tersebut malah akan menjadi masalah. Maka meluahkannya dalam bentuk tulisan itu lebih aman. Surat-surat tersebut juga bisa dijadikan referensi untuk tulisan fiksi yang sedang digarap.

6. Melatih diri untuk menulis 3 kata dalam bentuk puisi
Ini sih berat bagiku, tapi kata Noelle ketika kita terbiasa menulis sedikit kata tapi sudah penuh dengan makna, kita tidak akan melakukan pemborosan kata saat menulis cerita. Karena banyak kita temukan tulisan-tulisan di luar sana yang sering mengulang-ulang kata yang sama hanya untuk menjelaskan sesuatu yang sederhana. Mungkin kalian sering menemukan hal demikian di tulisanku hehe... Tapi kebetulan sekali sebelum datang ke lokakarya beliau pun, aku sudah mulai melatih diri menulis puisi sependek mungkin. Bisa jadi satu baris, atau dua baris saja. Tapi untuk 3 kata disusun menjadi puisi sih bakalan jadi PR banget buat aku.


bisa lihat aku? kredit foto @noelleqdj

Itu adalah beberapa kebiasaan Noelle yang sempat aku tangkap dari sharing-nya. Noelle sempat membuka sesi tanya jawab, dan akupun memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan basic yaitu tentang bagaimana cara beliau mengatasi writers block? Menurut Noelle dengan kebiasaan-kebiasaannya tersebutlah dirinya merasa hampir tidak pernah mengalami writers block. Jadi secara tidak langsung kebiasaan-kebiasaannya itulah jawaban untuk mengatasi writers block. Sepertinya memang perlu dicoba sih, soalnya aku sering mengalami writers block terutama ketika menulis fiksi. Nah, Noelle juga sempat bilang jika sedang menulis fiksi menulislah sampai selesai dulu. Baru setelah itu dibaca berulang-ulang dan diperbaiki jika ada yang perlu diperbaiki. Karena kalau baru setengah jalan sudah dibaca dan diperbaiki, fokus kita akan buyar dan bingung bagaimana untuk menyelesaikan cerita tersebut. Secara tidak sadar ternyata kita sudah mempunyai koleksi sekian banyak unfinish draf . Dipikir-pikir aku pribadi ternyata mengalami itu. Setelah menghadiri lokakarya tersebut aku benar-benar belajar banyak hal. Selain itu aku juga bertemu banyak orang baru yang sama-sama menyukai buku dan sastra. Aku adalah satu-satunya orang Indonesia yang dari sekitar 30 peserta yang hadir. 


Setelah acara selesai aku membeli salah satu buku Noelle yang berjudul Blood dan ditandatangani langsung oleh beliau. Sekian cerita lokakarya bersama Noelle nya, semoga bukan cuma aku yang terinspirasi tapi kalian yang membaca ini juga bisa terinspirasi. Terima kasih sudah mampir dimari, dan selamat karena tulisanku memilihmu sebagai pembacanya :)

Comments

Post a comment

Popular Posts