RAMADHAN PAMIT

Hari ke-29 Ramadhan, aku terlepas tahajud. Sungguh penyesalan yang tiada tara. Sudah detik-detik terakhir malah kesiangan. Jam di HP menunjukan pukul 05:15 ketika mataku terbuka dari nyenyaknya tidur. Terdengar rintikan hujan di luar, sepertinya sisa guyuran semalam. Seolah menegaskan kepada para hamba tentang mustajabnya waktu berdoa. Bulan Ramadhan, hujan, waktu sahur, sungguh tiada nikmat yang patut didustakan. Rugi jika harapan tidak dilangitkan, dan nama-nama orang tersayang tidak dibisikkan. Aku tak ingin melewatkan waktu mustajab diantara kunyahan sahurku, semoga...semoga...bisikku...

Tahun ke-13 Ramadhan di rantau, sudah terbiasa dan aku tidak merindukan apapun selain berkahnya. Aku lebih merasa fokus ketika bersendirian. Tahun ini kebetulan Ramadhan dalam keadaan pandemik, mengharuskan setiap orang untuk tetap berada di rumah-rumah mereka. Rasa kesendirian yang semakin membalut. Namun aku menikmati setiap detiknya. Tidak ada libur tidak mengapa, malah aku tidak perlu pusing-pusing memilih untuk menghadiri undangan bukber yang mana. 
Rasanya baru kemarin Ramadhan disambut, tidak terasa malah sudah mau pamit...

Jika tahun depan masih diberi kesempatan untuk menyambut Ramadhan lagi, mungkin aku sudah beranjak dari tanah rantau ini. Dan aku belum tau pasti akan berada dimana. Aku berharap berada di tempat yang lebih baik dan mungkin dengan orang yang baik pula? Siapa tau nanti aku jadi tidak menyukai kesendirian, siapa tau nanti aku lebih suka ditemani, siapa tau...

Alarm tanda menjelang azan subuh berbunyi, kuteguk air terakhir sebagai penutup sahur. Syawal semakin hampir, Ramadhan yang hanya mampir bersiap pamit meninggalkan kesayuan dalam takbir. Sepertinya aku belum sempat beramal total. Ternyata sebulan itu tidak cukup untuk mencari bekal, sedangkan waktu yang Allah beri seringkali aku sia-siakan. 

Seorang teman bertanya, "kau sudah punya baju baru?"
Dia selalu konsisten bertanya setiap tahunnya. Dia akan menawariku untuk membelikan jika aku tidak punya baju baru. Hingga beberapa pertanyaan berikunya, masih terdengar sama, akan membuatku tersenyum seperti tahun-tahun yang telah berlalu. "Eid-Ul-Fitr adalah satu diantara dua hari yang Allah bolehkan kita untuk merayakan. Mari kita rayakan dengan maksimal. Salah satunya dengan memakai baju baru yang terbaik." tutupnya mengakhiri percakapan.
Aku akan sangat merindukan dia suatu hari nanti jika kemudahan berjumpa sudah tidak ada. Terima kasih yang tak terhingga untuk kontribusi terbaik yang kau tawarkan selama menjabat sebagai teman. Semoga kau dan aku selalu dijaga oleh Allah dalam ikatan pertemanan.

Meski rasa sayu menyelimut sempena Ramadhan yang sebentar lagi pamit, aku tetap harus memberi porsi energi juga untuk penyambutan hari raya. Kamar menjadi pojok pertama yang kujutu untuk dibersihkan, karena aku akan merayakan lebaran di kamar. Mencatat nama siapa saja yang akan kutelpon, dan mikir apakah aku akan masak atau makan salad saja. Bukan masalah makan apa yang kupikir sebenarnya, nanum lebih kepada memastikan punya jawaban yang layak kalau pas hari raya ada pertanyaan, kau makan apa. Kenapa pusing dengan pertanyaan orang, bukan begitu... aku hanya tidak mau berbohong saja, dan tentunya aku malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan setelah jawaban pertamaku. Misal aku menjawab makan salad, si penanya akan merespon, kok salad, kan lebaran, emang nggak masak, dsb. Manusia memang makhluk yang rasa penasarannya sangat tinggi.

Dimintai THR juga bagian dari serba-serbi menjelang lebaran. Jika diulik lagi, makna THR seolah telah ternodai dengan peminta yang tak lagi ada rasa malu. THR (Tunjangan Hari Raya) entah kenapa beralih arti menjadi sebuah kewajiban untuk memberi, yang ditetapkan si peminta. 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-akan ia memakan bara api." Ath-Thahawi dalam syarah Ma'anil Atsar no.3021.

Pukul 13:03 ketika azan Dzuhur berkumandang di HP, mengingatkan kembali bahwa Ramadhan hampir usai. Harapan menggebu, semoga bukan Ramadhan terakhir. Rintikan hujan masih engan berhenti, dalam sayu aku terhibur dengan desir dan petrikor, juga abu-abu mendung yang mendengungkan guruh. Namun lakunaku tetap terbentuk mengingat Ramadhan yang sebentar lagi pamit dan Syawal mulai mengetuk.



Comments

eksak said…
Tanggokan? XD

Popular Posts